MADINA, SahataNews – Camat Tambangan, Bahren Daulay, memiliki cara tersendiri untuk mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat di wilayah yang dipimpinnya. Melalui program Keta Marsialapari, ia menghidupkan kembali tradisi gotong royong khas Mandailing yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Program tersebut resmi dicanangkan di Desa Pastap pada Selasa (4/8/2025). Keta Marsialapari merupakan gagasan Pemerintah Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) bersama seluruh pemerintah desa dan kelurahan se-Kecamatan Tambangan sebagai upaya membangun semangat kebersamaan melalui budaya gotong royong.
Camat Tambangan Bahren Daulay mengatakan, Keta Marsialapari berlandaskan nilai-nilai tradisi Mandailing yang mengedepankan semangat saling membantu, bekerja bersama, dan meringankan beban demi kepentingan bersama.
“Tradisi Marsialapari dahulu dilakukan oleh kelompok tani secara bergiliran untuk mengerjakan ladang atau kebun berdasarkan hasil musyawarah. Nilai-nilai itu sangat relevan untuk kita hidupkan kembali dalam kehidupan bermasyarakat saat ini,” ujar Bahren.
Menurutnya, gotong royong bukan sekadar membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga, memperkuat komunikasi antarpemerintah desa, dan membangun rasa memiliki terhadap lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, program Keta Marsialapari dibagi menjadi tiga kelompok gotong royong. Kelompok pertama, GR Rura Aek Mais, terdiri atas tujuh desa, yakni Pastap Julu, Pastap, Padang Sanggar, Muara Mais, Muara Mais Jambur, Angin Barat, dan Lumban Pasir. Kegiatan dilaksanakan setiap hari Selasa pada minggu pertama setiap bulan.
Kelompok kedua, GR Laru–Huta Tonga, terdiri atas Desa Laru Bolak, Laru Baringin, Laru Dolok, Pasar Laru, Huta Tonga, dan Kelurahan Laru Lombang. Gotong royong dijadwalkan setiap Jumat pada minggu kedua setiap bulan.
Sementara kelompok ketiga, GR Seberang Batang Gadis, meliputi Desa Tambangan Jae, Simangambat Tambangan, Tambangan Tonga, Tambangan Pasoman, Rao-Rao Dolok, Rao-Rao Lombang, dan Panjaringan. Kegiatan dilaksanakan setiap Jumat pada minggu ketiga setiap bulan.
Bahren menjelaskan, jadwal kegiatan telah disusun hingga Desember 2025. Setiap desa akan bergantian menjadi tuan rumah dengan menentukan lokasi gotong royong serta mengajak masyarakat ikut berpartisipasi.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi gerakan bersama. Bukan hanya perangkat desa yang terlibat, tetapi seluruh masyarakat ikut bergotong royong membangun lingkungan dan memperkuat kebersamaan,” katanya.
Selain membersihkan lingkungan, Keta Marsialapari juga diharapkan menjadi wadah bagi pemerintah desa untuk menjalin silaturahmi, berdiskusi mengenai potensi desa, memperkuat kepedulian sosial, serta menciptakan rasa aman dan nyaman di tengah masyarakat.
“Harapan kami, Keta Marsialapari menjadi budaya yang terus hidup di Kecamatan Tambangan. Dengan kebersamaan dan semangat saling membantu, pembangunan desa akan semakin kuat dan masyarakat semakin kompak,” tutup Bahren Daulay. (Rizqi)

