Madina, SahataNews – Muhammad Adanan, warga Desa Padanglaru, Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal (Madina), sukses menembus seleksi awal Standarisasi Dakwah yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia di Jakarta.

Dari total sekitar 1.500 pendaftar seluruh Indonesia, hanya 186 orang yang dinyatakan lolos tahap awal. Yang membanggakan, Adanan menjadi satu-satunya perwakilan dari Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Alumni Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru ini bukan nama baru di dunia dakwah. Ia telah beberapa kali mencoba peruntungan di ajang Akademi Sahur Indonesia yang tayang di Indosiar. Meski belum berhasil melangkah jauh, pengalaman tersebut justru membuka jalannya ke panggung yang lebih besar.

“Dari Ustaz Syahrullah saya tahu bahwa standarisasi dakwah dari MUI ini penting untuk bisa tampil di TV nasional. Saya jadi termotivasi untuk ikut,” ujar Adanan saat audiensi dengan Bupati Madina, Saipullah Nasution, Senin (27/4/2026).

Kini, langkahnya semakin dekat menuju mimpi besar. Dari 186 peserta yang tersisa, seleksi akan kembali dipersempit menjadi sekitar 50 dai terbaik. Mereka yang lolos nantinya akan mengantongi sertifikat resmi dari MUI, sekaligus berpeluang tampil di televisi nasional.

Tak hanya untuk dirinya sendiri, Adanan juga membawa misi lebih besar. Ia berharap keikutsertaannya bisa menjadi awal terbentuknya komunitas kaderisasi dai di Madina.

“Sudah ada diskusi dengan Ketua MUI Madina. Setelah ini, kita ingin bentuk komunitas untuk mencetak dai dan daiah di daerah,” ungkapnya.

Langkah Adanan pun mendapat dukungan penuh dari Bupati Saipullah. Ia menyebut, keberhasilan Adanan menembus seleksi awal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi daerah yang dikenal sebagai “Serambi Mekkah”-nya Sumatera Utara.

“Beliau satu-satunya dari Madina yang mendapat undangan seleksi MUI. Kita doakan bersama agar bisa lolos dan tampil di TV nasional,” kata Saipullah.

Menurutnya, kehadiran dai bersertifikat MUI akan menjadi dorongan besar dalam meningkatkan kualitas dakwah di Bumi Gordang Sambilan.

Selain aktif sebagai pengajar di pesantren, Adanan juga dikenal luas di tengah masyarakat. Ia rutin mengisi pengajian dan perwiritan ibu-ibu di berbagai desa, mulai dari Mompang Jae, Mompang Julu, Padanglaru, hingga Huraba di Kecamatan Siabu.

Kini, doa masyarakat Madina pun mengiringi langkahnya menembus panggung nasional, membawa nama daerah, dan menyebarkan dakwah yang lebih luas. (Rls)