Madina, SahataNews – Keresahan mulai menyelimuti para petani padi di Desa Hutabaringin, Kecamatan Panyabungan Barat, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Di tengah musim tanam yang sedang berlangsung, jatah pupuk subsidi yang biasa mereka terima mendadak berkurang hingga separuh.

Jika sebelumnya setiap petani mendapatkan satu sak pupuk berisi 50 kilogram, kini mereka hanya menerima setengah sak atau sekitar 25 kilogram per orang.

Pantauan di area persawahan Hutabaringin menunjukkan, pengurangan kuota itu terjadi pada pupuk subsidi jenis Urea dan NPK Phonska yang disalurkan melalui kios resmi UD Risko. Kondisi tersebut disebut sudah berlangsung dalam beberapa kali penyaluran terakhir.

“Biasanya petani yang punya lahan satu bunbun dapat satu sak penuh 50 kilogram. Tapi sekarang tinggal setengah sak saja,” ujar salah seorang petani kepada wartawan, Jumat (22/5/2026).

Keluhan serupa juga disampaikan Ketua Naposo Nauli Bulung (NNB) Hutabaringin, Muhammad Fauzan.

Ia menilai pengurangan kuota terjadi di saat petani justru sangat membutuhkan pupuk untuk mendukung masa tanam.

“Sekitar 10 hari lalu dibagi setengah sak, hari ini juga masih sama. Sementara kebutuhan pupuk di sawah sedang tinggi-tingginya,” katanya.

Menurut Fauzan, sebagian besar warga Hutabaringin menggantungkan mata pencaharian dari sektor pertanian padi. Karena itu, keterlambatan maupun pengurangan pupuk subsidi dinilai sangat berdampak terhadap aktivitas bertani masyarakat.

Tak hanya soal kuota, petani juga menyoroti harga pupuk Urea subsidi yang disebut mengalami kenaikan. Jika Harga Eceran Tertinggi (HET) berada di angka Rp90 ribu per sak, di lapangan pupuk dijual seharga Rp95 ribu.

Menanggapi keluhan tersebut, pihak UD Risko selaku kios pengecer resmi membenarkan adanya pembagian jatah setengah sak kepada petani.

Namun, mereka menegaskan langkah itu dilakukan agar seluruh petani yang masuk dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) tetap mendapatkan pupuk meski stok belum sepenuhnya tersedia.

“Kami bukan sengaja mengurangi jatah. Barang yang kami tebus ke distributor belum semuanya masuk ke kios,” ujar perwakilan UD Risko saat ditemui di tokonya.

Mereka menjelaskan, untuk pupuk Urea, dari total 400 sak atau sekitar 20 ton yang telah ditebus, baru sekitar 200 sak yang diterima. Sementara pupuk Phonska, dari 500 sak yang ditebus, baru masuk sekitar 150 sak.

“Kami juga ingin barang cepat masuk semua karena modal kami tertahan di distributor. Sisa jatah petani tetap akan kami salurkan setelah pasokan berikutnya tiba,” jelasnya.

Pihak kios memperkirakan sisa pupuk subsidi tersebut akan masuk dalam pekan ini atau paling lambat setelah Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.

Situasi ini pun memicu kekhawatiran di kalangan petani. Mereka berharap distribusi pupuk subsidi dapat segera normal agar proses tanam tidak terganggu dan hasil panen tetap maksimal. (Rls)