Madina, SahataNews – Kasus seorang siswa yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di Kecamatan Bukit Malintang, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), terus menyita perhatian publik.
Di tengah proses penanganan perkara oleh kepolisian, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Madina mengambil langkah dengan memanggil kepala sekolah dan guru yang mengajar korban.
Pemanggilan tersebut dilakukan untuk mendapatkan informasi secara komprehensif mengenai kondisi korban selama berada di lingkungan sekolah.
Hal itu disampaikan Kepala Disdikbud Madina dr. Muhammad Faisal Situmorang melalui Sekretaris Disdikbud Ade Elvia Nora saat ditemui di Kantor Disdikbud Madina, Komplek Perkantoran Payaloting, Panyabungan, Rabu (6/10/2026).
“Kepala sekolah dan wali kelas almarhumah anak itu telah kami panggil untuk dimintai keterangan dan penjelasan yang utuh, mengingat beberapa hari lalu orang tua anak sudah memberikan penjelasan kepada publik,” kata Ade.
Selain meminta keterangan pihak sekolah, Disdikbud Madina juga mengaku telah turun ke lokasi untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus berupaya menemui orang tua korban.
Namun, saat tim tiba di lokasi, ibu korban tidak berada di tempat.
“Kami sudah turun ke lokasi untuk menjumpai orang tua siswa dan menyampaikan belasungkawa. Namun, saat itu ibu si anak tidak di tempat, jadi tim kami belum sempat bertemu,” ujarnya.
Guru: Tidak Ada Intimidasi
Sementara itu, wali kelas korban membantah adanya intimidasi maupun perlakuan kasar terhadap korban selama berada di sekolah.
Menurutnya, teguran yang diberikan kepada siswa hanya sebatas hubungan antara guru dan murid dan tidak pernah dilakukan secara berlebihan.
“Tidak ada. Teguran pun hanya sebatas guru dengan murid, tidak ada yang berlebihan,” katanya.
Wali kelas kemudian memaparkan kondisi korban sebelum meninggalkan sekolah.
Saat itu, proses pembelajaran dilakukan menggunakan media layar pintar. Korban awalnya tidak ikut bergabung dengan teman-temannya. Namun, setelah diajak oleh kawan-kawannya, korban akhirnya ikut belajar.
“Sebelumnya kami belajar menggunakan media layar pintar. Si anak awalnya tidak ikut nimbrung, tapi setelah diajak sama kawan-kawannya, akhirnya dia ikut gabung. Satu kelas cuma tiga orang,” jelasnya.
Setelah kegiatan belajar, para siswa kemudian makan. Wali kelas mengaku sempat menyapa korban yang terlihat diam dan menanyakan apakah dirinya ingin makan.
“Karena dia diam, saya sapa dan saya tanya apakah dia mau makan atau bagaimana. Dijawab iya. Habis itu dia makan dan karena sudah masuk jam istirahat saya tinggalkan kelas,” tuturnya.
Saat jam istirahat, korban diketahui pulang ke rumah.
Tak lama kemudian, suasana di sekolah berubah setelah terdengar teriakan dari ibu korban.
“Tiba-tiba ibunya teriak. Itulah, ternyata si anak sudah tergantung di belakang rumah,” ungkapnya.
Wali kelas juga menanggapi adanya persoalan dengan orang tua korban. Ia menyebut tidak ada permasalahan serius yang dibawa ke lingkungan sekolah.
Menurutnya, anak korban yang merupakan anak paling kecil memang sering bermain di rumahnya. Ia mengakui pernah terjadi pertengkaran antara anaknya dengan anak korban.
Namun, menurutnya, kejadian tersebut berlangsung ketika keduanya masih anak-anak dan belum bersekolah.
“Anak ibu ini yang paling kecil sering main ke rumah. Jadi memang sempat anak saya dan anak ibu ini bertengkar, saya belalah anak saya. Ini kan anak-anak, usianya belum sekolah,” katanya.
Ia memastikan persoalan tersebut tidak pernah dibawa ke sekolah ataupun memengaruhi hubungan guru dengan korban.
Terlebih, dirinya dan keluarga korban merupakan tetangga yang tinggal di kawasan perumahan sekolah.
“Saya pun merasa kehilangan. Anak itu murid saya, setiap hari jumpa dengan saya,” ujarnya.
Kepsek: Tidak Pernah Ada Pengaduan
Kepala sekolah juga menyatakan selama ini tidak pernah menerima pengaduan dari orang tua korban terkait sikap guru terhadap anak tersebut.
“Tidak ada. Biasanya, kalau ada anak yang menurut orang tua diperlakukan kurang baik oleh guru, orang tua pasti cerita atau mengadukannya ke saya,” katanya.
Kepala sekolah kemudian menjelaskan alasan dirinya tidak dapat ditemui wartawan ketika datang ke sekolah pada Senin sebelumnya.
Ia mengaku sedang memenuhi panggilan kepolisian bersama tiga orang guru lainnya untuk memberikan keterangan terkait kasus tersebut.
“Ada empat orang guru, termasuk saya, yang dipanggil untuk memberikan keterangan ke kantor polisi,” ujarnya.
Menurut kepala sekolah, kemungkinan para guru tidak memberitahukan keberadaan dirinya dan wali kelas kepada wartawan karena masih merasa takut dan terguncang setelah peristiwa tersebut.
Namun, setelah itu pihak sekolah tetap menerima wartawan yang datang untuk mencari informasi.
Meski demikian, kepala sekolah menegaskan pihak sekolah menghormati proses hukum yang sedang berjalan.
“Mari kita hormati pihak kepolisian yang menangani kasus ini,” pungkasnya. (Rizqi)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan