Madina, SahataNews – Perjalanan puluhan jemaah umrah asal Mandailing Natal (Madina) yang sebelumnya terkatung-katung di Medan berakhir dengan suasana haru. Tiga minibus yang membawa rombongan tiba di halaman Mapolres Madina, Jumat (21/8/2026) sekitar pukul 10.15 WIB.

Begitu kendaraan berhenti, sejumlah jemaah langsung turun dan memeluk keluarga yang sejak pagi menunggu kedatangan mereka. Tangis pecah di tengah halaman Mapolres Madina.

Kepulangan tersebut seharusnya menjadi momen membahagiakan setelah perjalanan menuju Tanah Suci. Namun, para jemaah justru kembali ke kampung halaman tanpa menunaikan ibadah umrah yang telah mereka persiapkan.

Sebagian besar jemaah merupakan orang lanjut usia. Wajah lelah terlihat setelah mereka melewati beberapa hari penuh ketidakpastian di kawasan Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang.

Tidak banyak waktu yang mereka gunakan untuk beristirahat. Setelah tiba di Madina, rombongan bersama keluarga langsung menuju Mapolres Madina untuk membahas langkah hukum atas persoalan yang mereka alami.

Perwakilan keluarga jemaah, Adi SP Lubis, mengatakan para jemaah sengaja mendatangi kepolisian terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah.

“Jemaah berangkat dari Asrama Haji Medan langsung ke Polres Madina dulu. Semua keluarga jamaah menunggu di Polres. Dari Polres nanti selesai urusan buat laporan polisi, baru balik ke Masjid Agung,” ujar Adi.

Menurutnya, keluarga dan para jemaah sepakat menjadikan proses pelaporan sebagai langkah pertama setelah mereka kembali ke Madina.

Salah seorang jemaah, dr. Khairani, juga membenarkan keputusan tersebut. Ia mengatakan rombongan langsung menuju kepolisian begitu tiba di Madina.

“Iya, pulang kakak dan langsung ke Polres untuk membuat laporan polisi,” katanya.

Para jemaah belum banyak memberikan keterangan terkait kronologi persoalan karena masih berkonsentrasi menyelesaikan proses laporan kepada polisi.

Rombongan tersebut sebelumnya terdiri dari 30 jemaah. Mereka sempat tertahan selama beberapa hari di Medan setelah keberangkatan umrah yang dijadwalkan tidak terlaksana.

Pemulangan dari Medan menuju Madina kemudian difasilitasi Anggota DPRD Sumatera Utara Rahmat Rayan Nasution melalui koordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Dinas Perhubungan Sumut.

Pada Kamis (20/8/2026) sore, rombongan diberangkatkan dari Asrama Haji Medan. Pelepasan dilakukan oleh perwakilan Kanwil Kementerian Agama Sumatera Utara, Torang Rambe, bersama Malik Harahap dari Dishub Sumut.

Transportasi kepulangan diberikan tanpa biaya. Sementara kebutuhan konsumsi selama perjalanan ditanggung secara swadaya oleh keluarga jemaah.

Namun, kondisi seluruh jemaah tidak memungkinkan untuk pulang bersama-sama.

Dua jemaah lansia yang merupakan pasangan suami istri asal Manambin harus tetap berada di Medan karena mengalami gangguan kesehatan dan masih menjalani perawatan.

Selain itu, seorang jemaah memilih menuju Jakarta untuk menemui keluarganya. Satu jemaah lainnya telah lebih dahulu tiba di Madina.

Dengan demikian, rombongan yang tiba di Mapolres Madina tidak lagi berjumlah lengkap 30 orang.

Dari Harapan ke Tanah Suci Berujung Laporan Polisi

Para jemaah sebelumnya telah mempersiapkan diri untuk menjalani ibadah di Tanah Suci. Namun, rencana tersebut gagal terlaksana dan mereka akhirnya harus kembali ke daerah asal.

Kini, persoalan tersebut memasuki babak baru. Para jemaah dan keluarga memilih jalur hukum untuk meminta pertanggungjawaban atas kerugian dan kondisi yang mereka alami.

Dari halaman Mapolres Madina, perjuangan mereka tidak lagi soal melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci, tetapi memastikan dugaan persoalan dalam keberangkatan umrah tersebut dapat diusut dan memperoleh kejelasan secara hukum.

Tangis yang mengiringi kepulangan mereka pun menjadi penanda bahwa perjalanan yang semula dimulai dengan harapan beribadah, kini berlanjut dengan upaya mencari keadilan. (Rizqi)