MEDAN, SahataNews – Kematian  Winda Lorenza Gowasa (WLG), istri Polisi yang ditemukan meninggal dunia di sebuah rumah di Komplek Bumi Asri, Blok G230, Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, pada Minggu (2/8/2026), masih menyisakan banyak pertanyaan di mata keluarga.

Sejumlah kondisi yang mereka temukan setelah melihat jenazah dinilai sebagai kejanggalan yang hingga kini belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan.

Adik kandung korban, Ica (29), mengungkapkan keluarga pertama kali menerima kabar duka pada Minggu sekitar pukul 14.58 WIB melalui sambungan telepon yang melibatkan Brigadir IH dan ayah mereka.

Saat itu, Ica yang berada di Nias tidak dapat langsung berangkat ke Medan karena penerbangan terakhir telah berangkat. Ia baru tiba keesokan harinya dan melihat jenazah kakaknya di Rumah Sakit Bhayangkara Medan.

Saat berada di rumah sakit, Ica mengaku menemukan luka yang telah dijahit di bagian kepala korban. Ketika keluarga meminta penjelasan kepada petugas, mereka disebut mendapat informasi bahwa luka tersebut merupakan bekas penyuntikan.

Namun, keluarga mempertanyakan ukuran luka yang menurut mereka cukup besar hingga memerlukan jahitan.

Selain luka di kepala, keluarga juga mengaku melihat memar di sekitar mata serta bercak kebiruan pada paha, lutut, punggung kaki, dan jari-jari kaki korban. Petugas yang memandikan jenazah menjelaskan perubahan warna tersebut merupakan bagian dari proses pembusukan. Meski demikian, keluarga mengaku masih meragukan penjelasan tersebut.

Keluarga juga mempertanyakan dugaan bunuh diri yang sempat disampaikan sebelumnya. Menurut Ica, kakaknya tidak memiliki pengetahuan mengenai penggunaan senjata api jenis revolver. Ia juga mempertanyakan bagaimana proses pengambilan proyektil apabila memang terdapat luka tembak di kepala korban.

Hal lain yang menjadi sorotan keluarga adalah larangan mengambil foto maupun merekam video selama berada di rumah sakit dan saat berada di rumah keluarga Brigadir IH. Menurut Ica, larangan tersebut justru menambah tanda tanya bagi keluarga.

Keluarga juga menyoroti keinginan agar jenazah segera dimakamkan tanpa terlebih dahulu dibawa ke rumah duka. Saat itu mereka mendapat alasan bahwa kondisi jenazah telah membusuk dan tidak dapat diawetkan menggunakan formalin. Namun setelah meminta penjelasan langsung kepada pihak rumah sakit, keluarga mengaku memperoleh informasi bahwa jenazah masih dapat diawetkan. Hingga kini, menurut Ica, kondisi jenazah tetap utuh dan tidak mengeluarkan bau sebagaimana yang sebelumnya dikhawatirkan.

Di sisi lain, Ica mengungkapkan bahwa sebelum meninggal dunia, kakaknya sedang menjalani proses rujuk dengan mantan suaminya, Brigadir IH. Menurutnya, keluarga mengetahui rencana tersebut setelah mantan abang iparnya meminta dukungan agar WLG bersedia kembali demi kedua anak mereka.

WLG kemudian dijemput dari Jakarta oleh ibu mertuanya dan tinggal sekitar dua bulan di Medan bersama kedua anak serta Brigadir IH. Proses rujuk disebut telah berjalan cukup serius. Bahkan, keluarga Brigadir IH dikabarkan menggelar ibadah kebaktian yang dihadiri keluarga inti dan pendeta sebagai bentuk penerimaan kembali WLG. Di gereja juga disebut telah diumumkan bahwa keduanya akan kembali menerima pemberkatan pernikahan.

Meski demikian, selama proses rujuk berlangsung, WLG disebut beberapa kali mencurahkan isi hatinya kepada sang adik. Ia mengaku sedih setelah mengetahui anak-anak mereka diperkenalkan kepada perempuan yang disebut sebagai pacar Brigadir IH. Korban juga mengaku hanya diberi uang Rp10 ribu untuk menjemput anak-anak sehingga kesulitan memenuhi kebutuhan transportasi.

Selain itu, Ica mengatakan kakaknya pernah bercerita mengenai dugaan kekerasan yang dialaminya sebelum perceraian. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara rinci proses perceraian tersebut karena keluarga tidak pernah dilibatkan.

Bagi keluarga, Winda Lorenza dikenal sebagai sosok anak sulung dari tiga bersaudara yang periang, penyayang, dan pekerja keras. Sebelum meninggal dunia, ia menjalankan usaha penjualan pakaian sekaligus menerima jasa titip barang dari luar negeri.

Keluarga berharap seluruh dugaan kejanggalan yang mereka sampaikan dapat ditelusuri secara profesional, transparan, dan objektif. Mereka meminta aparat penegak hukum mengungkap penyebab pasti kematian Winda Lorenza Gowasa berdasarkan alat bukti, hasil autopsi, serta pemeriksaan forensik. (Rls)

Sumber : Fb Posmetro Medan