Madina, SahataNews – Ahmad Taupik Siregar alias Ucok Rindang, mengajak seluruh masyarakat Karo yang berada di Kabupaten Madina, baik kalangan kalimbubu, senina, maupun anak beru, untuk terus menjaga kekompakan dan aktif menghadiri berbagai kegiatan keluarga besar Merga Silima.
Ajakan tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya menjaga tali persaudaraan, melestarikan adat istiadat, serta memperkuat hubungan kekeluargaan masyarakat Karo meskipun berada jauh dari kampung halaman.
Hal itu disampaikan Ucok Rindang, usai kegiatan silaturahmi keluarga besar Merga Silima Kabupaten Madina yang dilaksanakan di kediaman Nurhayati Br Sembiring, Desa Sarak Matua, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sabtu (24/10/2026).
Diketahui Merga Silima Kabupaten Madina saat ini dipimpin oleh H. Kibar Barus. Sementara itu, Nurhayati Br Sembiring, yang juga merupakan istri mantan Wakapolres Madina Agus Mariyana, disebut sebagai salah satu penasihat dalam perkumpulan tersebut.
Ucok Rindang, yang juga merupakan suami Agustina Br Ginting, menilai keberadaan Merga Silima memiliki peran penting sebagai wadah untuk mempertemukan masyarakat Karo dan mengurangi kerinduan ketanah kelahiran.
Menurutnya, melalui perkumpulan tersebut, hubungan kekeluargaan diharapkan tetap terjaga meskipun setiap anggota memiliki kesibukan, pekerjaan, dan aktivitas yang berbeda-beda.
Ia menyebutkan, masyarakat Karo yang bermukim di Madina berasal dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari tenaga pendidik, aparat kepolisian, kejaksaan, hingga berbagai bidang pekerjaan lainnya.
Namun, kesibukan sehari-hari terkadang membuat kesempatan untuk berkumpul bersama menjadi terbatas. Karena itu, kegiatan silaturahmi Merga Silima diharapkan menjadi momentum untuk kembali mempererat hubungan antarkeluarga.
Ketua Komisi I DPRD Madina itu juga menegaskan, menjaga kekompakan tidak harus menunggu adanya acara besar. Kesediaan untuk menghadiri pertemuan, saling menyapa, membantu anggota keluarga yang membutuhkan, serta menjaga komunikasi merupakan bagian penting dalam memelihara persaudaraan.
“Melalui Merga Silima, kita memiliki wadah untuk saling mengenal, mempererat persaudaraan, dan menjaga adat istiadat Karo. Saya mengajak seluruh keluarga besar masyarakat Karo yang ada di Madina, baik kalimbubu, senina, maupun anak beru, agar meluangkan waktu untuk menghadiri kegiatan-kegiatan Merga Silima di tengah kesibukan masing-masing,” ujar legislator PKB Madina itu.
Ia juga berharap generasi muda Karo ikut terlibat dalam berbagai kegiatan perkumpulan agar semakin mengenal adat istiadat, memahami nilai-nilai kekeluargaan, serta meneruskan tradisi yang diwariskan para leluhur.
Menurutnya, keberadaan masyarakat Karo di perantauan bukan menjadi alasan untuk melupakan identitas budaya. Sebaliknya, kehidupan di tanah perantauan seharusnya semakin memperkuat semangat untuk menjaga kebersamaan dan saling mendukung.
Merga Silima merupakan sistem kekerabatan masyarakat Karo yang mencakup lima merga utama, yakni Karo-karo, Ginting, Sembiring, Tarigan, dan Perangin-angin.
Dalam kehidupan masyarakat Karo, sistem kekerabatan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan adat, hubungan kekeluargaan, serta berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Di Kabupaten Mandailing Natal yang memiliki masyarakat dengan latar belakang suku dan budaya yang beragam, keberadaan Merga Silima juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan sesama masyarakat Karo sekaligus membangun kehidupan sosial yang harmonis dengan masyarakat setempat.
Ucok Rindang berharap kegiatan silaturahmi seperti yang dilaksanakan di Desa Sarak Matua dapat terus berlanjut dan semakin banyak dihadiri keluarga besar Karo dari berbagai kecamatan di Madina.
Ia menilai kekompakan merupakan modal penting untuk mempertahankan keberadaan perkumpulan kekeluargaan tersebut. Semakin erat hubungan antaranggota, semakin besar pula kesempatan untuk saling membantu dalam berbagai keadaan.
“Harapan kita, Merga Silima di Madina semakin kompak, semakin solid, dan semakin banyak keluarga yang ikut berpartisipasi. Jangan sampai karena kesibukan masing-masing, hubungan persaudaraan menjadi renggang. Mari kita jaga kebersamaan ini agar adat dan budaya Karo tetap hidup di tanah perantauan,” Pungkasnya (Rizqi)
