DEPOK, SahataNews – Kalau biasanya orang masuk rutan untuk menjalani hukuman, video yang satu ini justru bikin publik garuk-garuk kepala.

Bagaimana tidak? Sebuah video  memperlihatkan sejumlah orang berjoget dengan iringan musik keras, lampu warna-warni, dan suasana yang sekilas lebih mirip tempat hiburan malam ketimbang lingkungan rumah tahanan.

Video tersebut viral di media sosial dan sontak memunculkan pertanyaan: ini Rutan Depok atau sedang ada “malam hiburan” di balik jeruji?

Namun, pertanyaan publik itu akhirnya mendapat jawaban.

Kepala Rutan Kelas I Depok Ario Galih Maduseno memastikan video tersebut memang direkam di dalam Rutan Depok.

“Ya, setelah kami investigasi, apa yang ada di video tersebut memang berada di Rutan Depok,” kata Ario, Minggu (4/10/2026).

Nah, dari sinilah ceritanya mulai semakin serius.

Pihak rutan menemukan indikasi kuat kegiatan dalam video tersebut memang terjadi. Bahkan, sekitar 3–4 warga binaan kini didalami terkait dugaan keterlibatan dalam kegiatan tersebut.

Yang bikin alis makin naik sebelah, bukan cuma warga binaan yang diperiksa.

Dua petugas rutan juga ikut terseret dalam pemeriksaan.

Keduanya disebut bertugas di satuan pengamanan dan staf pembinaan. Mereka diduga membantu memfasilitasi masuknya barang-barang terlarang ke dalam rutan.

“Kalau diduga (petugas terlibat), iya, ini sedang dalam proses penanganan. Untuk sementara ini dua orang,” ujar Ario.

Menurut Ario, hasil investigasi sementara mengarah pada dugaan bahwa barang-barang tersebut masuk melalui bantuan petugas.

“Kalau diinvestigasi, melalui petugas,” katanya.

Jadi, kalau dugaan itu nantinya terbukti, persoalannya bukan lagi sekadar “siapa yang joget?”

Tetapi pertanyaan yang jauh lebih serius:

“Bagaimana barang-barang itu bisa masuk ke tempat yang seharusnya dijaga ketat?”

Apalagi, Rutan Depok sebelumnya sudah menggelar razia gabungan pada 23 September 2026.

Saat itu, pihak rutan menyatakan tidak menemukan telepon seluler maupun narkoba.

Namun, sekitar 10 hari kemudian, video dengan suasana bak klub malam justru beredar.

Ada lampu warna-warni. Ada telepon seluler. Ada aktivitas berjoget. Bahkan muncul dugaan keberadaan narkoba yang kini masih dalam proses pemeriksaan.

Pihak rutan memastikan razia sebelumnya dilakukan secara menyeluruh.

Artinya, kini muncul satu teka-teki yang masih harus dijawab melalui investigasi:

Kalau bukan saat razia, lalu kapan barang-barang tersebut bisa masuk?

Rutan Depok sendiri mengakui tantangan pengawasan tidak ringan.

Sekitar 1.279 penghuni harus diawasi oleh sekitar 10 petugas dalam setiap sif.

Ario menyebut perbandingannya mencapai lebih dari satu petugas untuk sekitar 100 penghuni.

Meski begitu, pihak rutan menyatakan pengawasan terus diperkuat dengan melibatkan aparat eksternal, termasuk Kodim, Polres, BNNK dan Brimob.

Kasus ini pun telah dilaporkan kepada kepolisian. Pemeriksaan gabungan bersama jajaran Ditjenpas Jawa Barat dan Ditjenpas pusat juga dilakukan.

Ario menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan berjanji melakukan pembenahan.

Sebab, program Zero HALINAR, bebas handphone, pungutan liar, dan narkoba, tentu bukan sekadar slogan yang enak dipajang di dinding.

Dan untuk sementara, publik tampaknya harus menunggu hasil pemeriksaan.

Sebab video boleh viral dalam hitungan menit, tetapi untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab, tentu tidak bisa cukup dengan bermodal video beberapa detik.

Rutan tetap rutan. Bukan tempat dugem. Kalau benar ada pelanggaran, biarkan pemeriksaan yang membuka siapa bermain dan siapa yang harus bertanggung jawab.

 

Sumber : Kumparan, Fb Posmetro Medan