Madina, SahataNews – Menyikapi kabut asap yang menyelimuti wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) selama dua hari terakhir, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madina memutuskan untuk memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi seluruh sekolah tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi untuk melindungi kesehatan peserta didik dari potensi dampak buruk kabut asap yang diduga merupakan kiriman dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.

Keputusan itu disampaikan Bupati Madina H. Saipullah Nasution seusai memimpin rapat koordinasi penanganan kabut asap di ruang kerja Bupati Madina, Rabu (14/10/2026).

Dalam keterangannya, Saipullah menjelaskan, berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina dan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat pergerakan angin dari arah timur menuju barat daya yang diduga membawa asap dari sejumlah daerah yang sedang mengalami karhutla.

“Jadi berdasarkan laporan dari Kepala BPBD Madina, dua hari ini berdasarkan analisa BMKG ada pergerakan angin dari timur ke barat daya. Di wilayah timur saat ini ada beberapa daerah yang sedang terjadi kebakaran hutan dan lahan. Angin itu menuju ke wilayah kita, sehingga dua hari ini kita melihat kondisi Madina berkabut asap,” jelas Saipullah.

Ia mengungkapkan, berdasarkan laporan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kualitas udara di Madina juga menunjukkan angka di atas ambang normal. Meski demikian, pengukuran tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan teknis menggunakan peralatan yang lebih memadai.

Bupati menyebutkan, tingkat kepekatan kabut asap saat ini juga mulai memengaruhi jarak pandang. Jika sebelumnya berkisar 3 hingga 4 kilometer, kini jarak pandang dilaporkan berada pada kisaran 1 hingga 4 kilometer.

Atas kondisi tersebut, Pemkab Madina mengambil sejumlah langkah penanganan.

Pertama, seluruh sekolah tingkat PAUD, SD, dan SMP akan melaksanakan pembelajaran jarak jauh hingga Sabtu (17/10/2026). Kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah melalui sistem daring, termasuk menggunakan aplikasi Zoom.

“Kita putuskan sampai dengan hari Sabtu. Nanti setelah hari Sabtu kita akan lihat lagi bagaimana kualitas udara,” tegasnya.

Sementara untuk sekolah tingkat SMA/SMK yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemkab Madina akan menyampaikan imbauan kepada pihak terkait agar mengambil kebijakan serupa.

Dinas Pendidikan Madina juga diminta berkoordinasi dengan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara di Padangsidimpuan. Hal serupa akan disampaikan kepada Kantor Kementerian Agama Madina yang membawahi pesantren dan sekolah-sekolah agama.

Kedua, Pemkab Madina akan menyurati Gubernur Sumatera Utara untuk meminta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi menurunkan petugas beserta peralatan pengukur kualitas udara guna melakukan pemeriksaan secara langsung di wilayah Madina.

Ketiga, pemerintah daerah akan melakukan pembagian masker kepada masyarakat sebagai langkah pencegahan agar warga tidak menghirup udara yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Menurut Saipullah, kegiatan tersebut akan dikoordinasikan oleh Kepala BPBD bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Madina.

“Kami akan melakukan operasi untuk merespons situasi ini agar masyarakat menggunakan masker. Kita belum tahu apakah udara ini berbahaya atau tidak, yang jelas akan kita periksa terlebih dahulu,” ujarnya.

Selain itu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Madina diminta menyampaikan pengumuman resmi kepada masyarakat agar membatasi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut.

Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan juga diimbau menggunakan masker. Bagi warga yang tidak memiliki masker, BPBD Madina akan membantu penyediaannya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya masyarakat yang terdampak gangguan kesehatan akibat kabut asap, Saipullah menyatakan hingga saat ini belum menerima laporan adanya warga yang mengalami dampak tersebut.

Terkait sumber pasti kabut asap, Bupati mengaku belum dapat memastikannya. Namun, berdasarkan analisis arah angin, asap diduga berasal dari wilayah timur Indonesia yang sedang mengalami kebakaran hutan dan lahan.

Ia juga menyebutkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, tidak terdapat titik api karhutla di wilayah Sumatera Utara.

“Belum tahu kita persisnya dari mana. Yang jelas, kalau kita lihat dari arah angin, Madina saat ini mengalami kiriman dan dampak yang kita rasakan,” ungkapnya.

Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Plt. Sekretaris Daerah Madina Afrizal Nasution, Asisten I Sahnan Pasaribu, Asisten III Lis Mulyadi Nasution, Kepala BPBD Muksin Nasution, Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ismail Dalimunthe, Kepala Dinas Kesehatan drg. Firdaus Batubara, Kepala Dinas Pendidikan Dr. Faisal Situmorang, serta Kasatpol PP Madina Yuri Andri, S.STP., M.Si.

Pemkab Madina berharap langkah antisipasi tersebut dapat meminimalkan risiko gangguan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, sembari menunggu hasil pemeriksaan kualitas udara secara lebih akurat. (Rizqi)