SahataNews – Madina | Luapan kekecewaan warga, khususnya kaum ibu, mewarnai pertemuan antara masyarakat Desa Singkuang I dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Mandailing Natal (Madina), yang digelar di Balai Desa Singkuang I, Kecamatan Muara Batang Gadis, Minggu (21/12/2025).

Pertemuan tersebut merupakan buntut dari peristiwa pembakaran Polsek Muara Batang Gadis yang terjadi sehari sebelumnya, Sabtu (20/12/2025). Bagi para emak-emak Singkuang I, peristiwa itu bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan akibat akumulasi kekecewaan masyarakat terhadap maraknya peredaran narkoba yang dinilai terlalu lama dibiarkan.

Dalam forum terbuka itu, para ibu menyampaikan keresahan mereka secara lugas dan emosional di hadapan Bupati Madina H. Saipullah Nasution, perwakilan Polda Sumatera Utara, Kapolres Madina, Kepala BNNK Madina, sejumlah anggota DPRD Madina termasuk Ahmad Taufik Siregar Dari Fraksi PKB, Danramil, tokoh masyarakat, serta warga setempat.

Salah seorang perwakilan emak-emak, Aniwar, mengawali penyampaiannya dengan nada rendah namun penuh makna.

“Maaf ya, Pak, kami tidak bisa terlalu formal. Maklumlah kami ibu-ibu, pendidikan pun kurang,” ujarnya.

Namun suasana berubah ketika Aniwar mulai menguraikan akar persoalan yang selama ini dirasakan warga.

“Semua yang terjadi ini bukan semata-mata begitu saja. Ada penyebabnya, Pak. Terlalu lama kasus ini didiamkan. Masa emak-emak lebih tahu duluan daripada Polseknya? Kami sangat kecewa,” tegasnya.

Menurutnya, dampak peredaran narkoba tidak hanya dirasakan oleh para pengguna, tetapi oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Kami yang tidak memakai pun kena efeknya. Pencurian marak. Tabung gas elpiji hilang. Mau masak sudah tidak ada gas,” ungkap Aniwar.

Yang paling membuat para ibu takut, lanjutnya, adalah ancaman narkoba terhadap anak-anak usia sekolah.

“Fakta, Pak. Anak-anak masih tingkat SMP sudah dikasih coba obat itu. Siapa ibu-ibu yang rela anaknya hancur?” ucapnya dengan nada emosional.

Di hadapan Forkopimda Madina, emak-emak Singkuang I pun menyampaikan tuntutan tegas, khususnya agar bandar besar narkoba di wilayah Muara Batang Gadis segera ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Tolong, Pak, bandar besar narkoba di sini dijadikan DPO secepatnya. Kami minta transparansi. Jangan nanti dibilang ‘sudah, Bu’, tapi bertahun-tahun tidak ada kejelasan,” katanya.

Para ibu berharap, pemerintah daerah dan aparat penegak hukum tidak lagi menutup mata terhadap keresahan masyarakat serta bertindak tegas dan terbuka demi menyelamatkan generasi muda di Mandailing Natal dari bahaya narkoba. (RIZQI)