SahataNews – Madina | Aktivitas perambahan hutan secara masif di kawasan Bukit Sikara Kara, Desa Sikarakara, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), kian mengkhawatirkan. Penggundulan kawasan yang diduga sebagai daerah tangkapan air ini memicu keresahan warga, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang rawan bencana.

Berdasarkan pantauan udara yang beredar di media sosial, kawasan bukit yang sebelumnya hijau kini berubah drastis menjadi hamparan tanah merah dengan pola terasering. Kondisi ini dinilai sangat berisiko memicu bencana hidrometeorologi, seperti tanah longsor dan banjir bandang, yang berpotensi mengancam pemukiman warga di wilayah hilir.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, aktivitas pembukaan lahan tersebut diduga kuat melibatkan oknum korporasi. Namun, dalam pelaksanaannya, kegiatan itu disebut-sebut dimanipulasi seolah-olah dilakukan oleh masyarakat setempat, guna menghindari jeratan hukum serta meredam penolakan publik.

Dugaan tersebut menguat setelah akun Facebook Mhd Ali Hanafiah mengunggah foto kondisi terkini Bukit Sikara Kara pada Sabtu (10/1/2026). Dalam unggahannya, ia menulis:

“Perambahan Hutan Bukit Sikara Kara di saat kondisi rentan bencana, bahkan diduga telah dilakukan setannya perusahaan yang konon mengaku masyarakat. Dengan kondisi seperti ini, siapakah yang bertanggung jawab? Apakah Kadesnya harus ikut bertanggung jawab?”

Pada unggahan lainnya, ia juga mengungkap rencana lanjutan pembukaan lahan berskala besar.

“Setelah yang terjadi ini, untuk tahap selanjutnya sudah direncanakan oleh mereka untuk membabat 107 hektar lagi tanpa mempertimbangkan efek sampingnya.”

Masifnya penggundulan hutan di wilayah administrasi Desa Sikarakara pun memunculkan tanda tanya besar terkait fungsi pengawasan pemerintah desa. Masyarakat mulai menyoroti peran Kepala Desa (Kades), apakah terdapat unsur pembiaran, atau bahkan pemberian izin yang tidak transparan terhadap aktivitas perusakan lingkungan tersebut.

Sebagai kawasan strategis di Kecamatan Natal, yang dikenal memiliki potensi wisata pantai, kerusakan Bukit Sikara Kara diyakini akan berdampak serius. Kerusakan di hulu tak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi merusak ekosistem hilir dan mengancam keselamatan warga Natal secara keseluruhan.

Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, Dinas Kehutanan, serta aparat penegak hukum untuk segera turun ke lokasi. Mereka berharap aktivitas perambahan hutan ini segera dihentikan dan diproses secara hukum, sebelum bencana alam benar-benar terjadi dan menelan korban.