Site icon SahataNews

Ngopi di Kedai Desa, Curhatan Warga Ranto Panjang Ini Bikin Bupati Madina Terdiam

SahataNews – Madina | Suasana santai di sebuah kedai kopi sederhana di Desa Ranto Panjang mendadak berubah penuh cerita dan emosi. Di hadapan Bupati Mandailing Natal H. Saipullah Nasution, warga satu per satu menyampaikan keluhan yang sudah mereka pendam selama bertahun-tahun.

Mulai dari trauma banjir bandang yang tak pernah benar-benar hilang, hingga fakta pahit bahwa tanah yang mereka tempati turun-temurun masih tercatat sebagai kawasan hutan lindung. Semua itu mencuat dalam pertemuan “ngopi bareng” pada Minggu (14/12/2025), di hari kedua kunjungan kerja Bupati ke wilayah Siaulangaling, Kecamatan Muara Batang Gadis (MBG).

Banjir bandang tahun 2009 masih membekas kuat di ingatan warga. Sejak saat itu, setiap musim hujan datang, rasa cemas selalu menghantui. Debit sungai yang terus meningkat membuat warga khawatir air kembali meluap dan menerjang permukiman mereka.

Tak hanya soal banjir, status lahan menjadi luka lama yang kembali terbuka. Meski desa telah dihuni ratusan tahun, kawasan tersebut masih berstatus hutan lindung. Kondisi ini membuat warga hidup tanpa kepastian hukum atas tanah yang mereka kelola.

Mendengar langsung keluhan itu, Saipullah mengakui persoalan yang dihadapi warga bukan perkara ringan. Akses yang sulit menjadi tantangan besar, terutama untuk membawa alat berat guna normalisasi sungai.

Namun perhatian Bupati tak berhenti di situ. Ia mengungkapkan fakta mengejutkan: Pemkab Madina telah mengusulkan perubahan status lahan di 144 titik kepada pemerintah pusat agar dialihkan menjadi Area Penggunaan Lainnya (APL), termasuk wilayah Siaulangaling.

Jika usulan itu disetujui, ribuan hektare lahan, termasuk sekitar 5.000 hektare lahan usaha warga di Desa Ranto Panjang, berpeluang mendapatkan kepastian hukum. Tanah bisa disertifikatkan, dimanfaatkan secara legal, bahkan dijadikan modal pengembangan ekonomi.

“Desa ini sudah dihuni ratusan tahun, tapi sampai hari ini masih berstatus hutan lindung. Ini sangat miris,” ucap Saipullah, menggambarkan kondisi yang membuat banyak warga hanya bisa berharap.

Ngopi sederhana itu pun menjadi saksi: di balik secangkir kopi, tersimpan jeritan warga, trauma masa lalu, dan harapan besar agar tanah yang mereka pijak akhirnya benar-benar diakui negara. (Rizqi)

Exit mobile version