SahataNews – Madina | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mulai menghadapi tantangan serius. Ketersediaan bahan baku pangan kian terbatas, memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan program nasional yang menyasar pemenuhan gizi masyarakat tersebut.

Ketua Yayasan SPS sekaligus pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan ABRI Panyabungan, H. Fahrizal Effendi Nasution, mengungkapkan bahwa kendala pasokan sudah sangat terasa, terutama saat memasuki masa libur panjang. Pada periode tersebut, penyaluran MBG harus dilakukan dalam bentuk paket bingkisan untuk enam hari sekaligus.

“Tekanan pasokan mulai sangat terasa, khususnya ketika libur panjang. Kita harus menyiapkan kebutuhan enam hari sekaligus, sementara bahan baku semakin sulit diperoleh,” ujar Fahrizal, Jumat (26/12/2025).

Ia menyebutkan, susu menjadi komoditas paling krusial dan hampir tidak lagi tersedia di pasaran. Kondisi ini memaksa pihaknya mengambil langkah darurat dengan melakukan substitusi menu berdasarkan rekomendasi ahli gizi.

“Susu sudah tidak ditemukan di pasaran. Karena menurut ahli gizi masih bisa digantikan, maka kami menggunakan Yakult sebagai alternatif, agar kebutuhan nutrisi penerima manfaat tetap terpenuhi,” jelasnya.

Tak hanya susu, pasokan buah-buahan segar juga mengalami hambatan serius. Rentetan bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara disebut menjadi pemicu utama, mulai dari rusaknya hasil panen hingga terputusnya jalur distribusi menuju Madina.

Menyikapi kondisi tersebut, Fahrizal menegaskan pemerintah daerah tidak boleh bersikap pasif. Menurutnya, Pemkab Madina harus segera mendorong percepatan produksi pertanian lokal, khususnya hortikultura, untuk memenuhi kuota kebutuhan yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).

“Pemerintah daerah harus menggerakkan percepatan produksi pertanian masyarakat. Kebutuhan dapur MBG terus meningkat, maka produksi lokal harus dipacu seiring dengan pertambahan kuota,” tegas mantan Anggota DPRD Sumut itu.

Selain pemerintah, sektor UMKM juga dinilai memiliki peluang besar untuk masuk dalam ekosistem MBG. Fahrizal mendorong pelaku UMKM lokal agar mulai memproduksi kebutuhan seperti roti dan kue, guna menggantikan produk pabrikan sebagaimana arahan BGN.

“UMKM seharusnya menangkap peluang ini. Kita punya kearifan lokal yang tahan lama, seperti kue bika pisang. Jika porsinya dikoordinasikan dengan ahli gizi, ini bisa menjadi kemasan gizi yang luar biasa bagi penerima manfaat,” kata pria bergelar Sutan Kumala Bongsu Lenggang Alam tersebut.

Menutup keterangannya, Fahrizal berharap sinergi konkret antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat segera terwujud. Ia optimistis, jika rantai pasok MBG dikelola berbasis potensi lokal, program ini tidak hanya efektif menekan angka stunting, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

“Target kita bukan sekadar makanan bergizi, tetapi bagaimana program ini benar-benar berdampak pada ekonomi masyarakat. Semua pihak harus tanggap dan bergerak cepat,” pungkasnya. (Rizqi)