Sukabumi – SahataNews | Usai ramai diperbincangkan di media sosial terkait dugaan kekerasan terhadap NS (12), siswa SMPIT Darul Ma’arif asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon kabupaten Sukabumi, ibu tirinya TR (47) akhirnya angkat bicara.

Dalam keterangannya, TR dengan tegas membantah tudingan penganiayaan yang menyeret namanya. Ia menyebut, NS meninggal dunia murni karena sakit serius, bukan akibat kekerasan.

“Iya itu sakit saja, sakit panas. Dari informasi yang saya terima, anak itu didiagnosa kanker darah, leukemia autoimun. Jadi memang benar sakit,” ujarnya. Sabtu (21/2/2026)

Menurut TR, informasi tersebut ia peroleh dari keterangan yang disampaikan saat pemeriksaan di kepolisian. Meski begitu, ia mengakui tidak memegang dokumen medis secara langsung.

Sorotan publik sebelumnya juga tertuju pada kondisi fisik NS yang disebut mengalami luka dan kulit melepuh. Namun TR kembali membantah adanya tindak kekerasan.

“Kalau ada kulit melepuh, itu akibat panas dalam karena kanker darah. Itu juga informasi dari saksi,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa pada Kamis pagi, dirinya bersama ayah kandung korban membawa NS ke RSUD Jampangkulon. Saat di rumah sakit, TR mengaku lebih banyak mengurus administrasi, sementara ayah korban yang mendampingi saat penjelasan medis diberikan.

“Yang menerima penjelasan dokter itu bapaknya. Saya waktu itu fokus di pendaftaran,” jelasnya.

TR juga menyinggung awal mula isu dugaan kekerasan yang viral. Menurutnya, persoalan bermula dari video kondisi korban yang dikirim ayahnya kepada seorang guru ngaji, lalu diteruskan kepada pihak lain hingga menyebar luas di grup percakapan.

“Belum ada diagnosis apa-apa, sudah di-upload dan dishare. Akhirnya netizen menilai macam-macam,” tuturnya.

Ia mengakui memang sempat terjadi pertengkaran antara NS dan anak angkatnya. Namun ia menilai hal itu sebagai dinamika biasa antar anak.

“Namanya juga anak-anak, pernah bertengkar tapi kemudian baikan lagi. Bukan sesuatu yang luar biasa,” katanya.

Menanggapi tudingan kekerasan yang disebut terjadi sejak 2025, TR kembali menegaskan bantahannya.

“Tidak benar. Anak itu saya urus dari kelas tiga SD. Dari tidak bisa baca, tidak bisa ngaji, saya yang membimbing. Kalau saya seperti yang dituduhkan, mungkin anak itu sudah meninggal dari dulu,” tegasnya.

Kini, kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan aparat berwenang untuk memastikan penyebab pasti meninggalnya NS. TR mengaku menyerahkan semuanya kepada proses hukum dan berharap kebenaran segera terungkap.

“Kalau saya pasrah saja. Allah yang Maha Tahu. Mudah-mudahan kebenaran bisa diperlihatkan,” tutupnya.(Rls)

Sumber : Sukabumi Update.com