MADINA, SahataNews – Hasil panen padi di Kecamatan Tambangan pada musim tanam kali ini mengalami penurunan dibandingkan musim sebelumnya. Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan metode ubinan, produktivitas padi diperkirakan mencapai 5,6 ton per hektare, turun sekitar 0,4 ton dari musim panen sebelumnya yang mencapai 6 ton per hektare.

Hal tersebut diketahui saat Camat Tambangan, Bahren Daulay, meninjau langsung kegiatan panen padi sekaligus pengukuran perkiraan hasil produksi di areal persawahan Saba Lombang, Desa Lumban Pasir, Senin (29/6/2026).

Pengukuran dilakukan pada lahan yang ditanami varietas padi Ciherang menggunakan metode ubinan melalui petak sampel berukuran 2,5 meter x 2,5 meter. Kegiatan ini turut dihadiri Kasi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Tambangan, Koordinator Pertanian Kecamatan Tambangan beserta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Kepala Desa Lumban Pasir dan perangkat desa, serta Kelompok Tani Desa Lumban Pasir.

Bahren Daulay menjelaskan, penurunan hasil panen tersebut dipengaruhi oleh musim kemarau yang terjadi pada fase pembentukan hingga keluarnya malai padi. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan air ke lahan persawahan berkurang sehingga berdampak pada produktivitas tanaman.

“Musim kemarau yang terjadi pada fase pembentukan hingga keluarnya malai menyebabkan kebutuhan air tanaman tidak terpenuhi secara optimal. Hal itu menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penurunan hasil panen pada musim ini,” ujarnya.

Selain melakukan pengukuran hasil panen, rombongan juga meninjau aktivitas para petani di lapangan. Dari hasil peninjauan diketahui sebagian petani masih mempertahankan cara manual dalam pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman hingga panen padi yang dalam budaya masyarakat Mandailing dikenal dengan istilah Mardege.

Di sisi lain, sebagian petani telah memanfaatkan teknologi pertanian berupa mesin bajak dan mesin perontok padi untuk membantu meningkatkan efisiensi kerja di sektor pertanian.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) terus memberikan penyuluhan, pendampingan, dan sosialisasi mengenai penerapan budidaya padi yang baik. Namun, masih terdapat sebagian petani yang belum sepenuhnya menerapkan rekomendasi teknis yang telah diberikan sehingga menjadi salah satu tantangan dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian.

Bahren Daulay berharap tradisi gotong royong melalui Mardege tetap dilestarikan karena merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Mandailing yang mampu mempererat kebersamaan sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat desa.

Ia juga mendorong agar pemanfaatan teknologi pertanian terus ditingkatkan secara bertahap sehingga produktivitas pertanian di Kecamatan Tambangan dapat meningkat pada musim tanam mendatang tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. (Rls)