SahataNews – Madina | Musyawarah Cabang (Muscab) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Mandailing Natal (Madina) tahun ini dipastikan akan menjadi lembaran baru bagi sejarah partai berlambang bola dunia tersebut.
Pengumuman mengejutkan datang dari Khoiruddin Faslah Siregar, sosok yang selama ini menjadi nakhoda utama, yang menyatakan tidak akan lagi mencalonkan diri sebagai ketua.
Di tengah spekulasi siapa yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan, satu nama muncul ke permukaan dengan resonansi yang cukup kuat. Dialah Edi Anwar Nasution.
Berbicara tentang Edi Anwar, berarti berbicara tentang loyalitas dan militansi. Di kalangan internal partai, dia bukan dianggap sebagai ‘pendatang baru’ yang memanfaatkan kendaraan politik di saat jaya. Edi Anwar merupakan potret kader genuine—seorang kader tulen yang tumbuh dan besar bersama napas perjuangan PKB di Bumi Gordang Sambilan.
Saat ini, dia mengemban amanah strategis sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPC PKB Madina. Posisi ini membuatnya menjadi ‘mesin’ yang memastikan roda organisasi tetap berputar di bawah kepemimpinan Faslah Siregar.
Maka, ketika Faslah memutuskan untuk menepi dari kursi ketua, Edi Anwar dipandang sebagai pewaris alami yang paling memahami anatomi partai hingga ke akar rumput.
Rekam jejak Edi Anwar di kancah politik praktis tidak perlu diragukan lagi. Kepercayaan masyarakat Mandailing Natal kepadanya terbukti bukan sekadar keberuntungan sesaat. Dia adalah politisi yang berhasil mempertahankan kursinya sebagai Anggota DPRD Madina selama tiga periode berturut-turut.
Ketahanannya di parlemen menunjukkan adanya basis massa yang riil dan kepercayaan publik yang terjaga. Tak hanya sekadar duduk sebagai anggota, Edi juga dipercaya menjabat sebagai Ketua Fraksi PKB di DPRD Madina. Peran ini mengharuskannya menjadi ujung tombak partai dalam mengawal kebijakan pemerintah daerah sekaligus menyuarakan aspirasi konstituen.
Bagi PKB Madina, suksesi kali ini bukan sekadar pergantian wajah, melainkan menjaga ritme kemenangan yang telah dibangun. Edi Anwar dianggap memiliki modal lengkap:
Pengalaman organisasi sebagai Sekjen, Edi Anwar paham seluk-beluk administrasi dan konsolidasi internal.
Soal kematangan politik, pengalaman tiga periode di legislatif menjadikannya sosok yang piawai dalam diplomasi politik. Selain itu, statusnya sebagai kader murni meminimalisasi potensi konflik ideologi di tubuh partai.
Kini, menjelang perhelatan Muscab, mata para kader dan simpatisan PKB tertuju padanya. Apakah Edi Anwar Nasution akan benar-benar menerima tongkat estafet tersebut dan membawa PKB Madina melompat lebih tinggi?
Satu hal yang pasti, dengan rekam jejak sebagai ‘penjaga dapur’ partai selama bertahun-tahun, Edi Anwar memiliki semua prasyarat untuk menjadi kapten baru yang siap berlayar di tengah tantangan politik yang kian dinamis. (Rizqi)

