Tapteng – SahataNews | Hujan deras yang mengguyur wilayah Tapanuli Tengah (Tapteng) selama lima hari berturut-turut memicu bencana banjir bandang dan longsor di sejumlah kecamatan, Selasa (25/11/2025). Curah hujan ekstrem membuat aliran air dari pegunungan meluap dan menghantam kawasan permukiman.
Warga Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, sedari pagi beraktivitas seperti biasa. Namun sekitar siang hari, suara gemuruh dari arah hutan tiba-tiba terdengar. Deru itu semakin lama semakin keras, hingga dalam hitungan menit air bah berwarna coklat keruh menerjang kampung.
Banjir membawa kayu-kayu besar dan lumpur tebal. Material itu menghantam rumah warga, merusak pagar dan dinding bangunan.
Dalam sebuah video amatir yang beredar di Facebook, terlihat seorang pria berbaju hijau berdiri di lantai dua rumahnya sambil memandang banjir yang menghantam permukiman. Kayu besar bahkan sempat menerjang tembok rumah hingga nyaris mencapai tempat ia berdiri.
Di sekitar lokasi, warga berteriak saling memanggil sambil mencoba menyelamatkan diri. Dalam sekejap, kampung kecil itu berubah menjadi zona kepanikan.
Bencana lain terjadi di Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis. Hujan deras sepanjang malam membuat tebing di belakang rumah salah satu warga melemah. Saat dini hari, longsor terjadi dan langsung menimbun sebuah rumah yang dihuni sepasang suami-istri dan tiga anak mereka.
Kepala Desa Mardame, Master Gultom, menemukan rumah itu tertimbun pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB. Ia terkejut melihat tembok bagian belakang jebol dan tertutup material tanah.
Bersama warga, ia mendobrak pintu dan masuk ke dalam. Di kamar yang salah satu dindingnya rata dengan tanah, mereka menemukan empat korban telah meninggal dunia.
Adapun data Korban adalah:
- Dewi Hutabarat (33) – Ibu Rumah Tangga
- Tio Arta Rouli Lumbantobing (7) – Pelajar SD
- Vania Aurora Lumbantobing (4)
- Ilona Lumbantobing (3)
Evakuasi dipimpin Bhabinkamtibmas, Aipda Rindu Hutabarat, bersama warga dan aparat desa. Korban dievakuasi satu per satu dan diserahkan kepada keluarga.
Sementara itu, suami korban, Poliman Lumbantobing (37), diketahui sedang bekerja sebagai sopir angkutan di luar kota ketika tragedi terjadi.
Di Kelurahan Sibuni-buni, Kecamatan Sarudik, banjir mulai naik sejak pukul 05.00 WIB. Dalam waktu singkat, air mencapai setinggi pinggang orang dewasa. Ratusan warga terpaksa mengungsi tanpa sempat menyelamatkan banyak barang.
Suasana kepanikan terlihat ketika warga menggendong anak-anak, membungkus barang berharga dalam plastik, dan saling mengevakuasi menuju tempat aman.
Kepala Bidang Peralatan BPBD Sumatera Utara, Sri Wahyuni Pancasilawati, menyebutkan bahwa hingga sore ini sedikitnya tujuh kabupaten/kota di Sumut terdampak bencana banjir bandang dan longsor.
“Untuk data pasti masih kami himpun. Tim di lapangan masih melakukan proses evakuasi dan pendataan,” ujarnya. (Rizqi)
Sumber : Fb Posmetro Medan

