Madina, SahataNews – Proyek pengembangan pisang kepok di Desa Hutatonga, Kecamatan Panyabungan Barat, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), ternyata tidak hanya dipersiapkan untuk menghasilkan buah.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madina menyiapkan lahan seluas lima hektare untuk proyek percontohan tersebut. Kawasan ini nantinya juga diproyeksikan menjadi ekowisata terpadu sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.

Rencana itu disampaikan Bupati Madina H. Saipullah Nasution saat meninjau langsung lahan proyek percontohan tersebut, Selasa (1/9/2026).

Saipullah mengatakan, penanaman pisang kepok dijadwalkan mulai Oktober 2026. Tahap awal dilakukan pada lahan seluas satu hektare, kemudian satu hektare berikutnya ditanam pada Desember.

“Penanaman dilakukan secara bertahap, pertama satu hektare pada Oktober 2026 dan satu hektare lainnya pada Desember,” kata Saipullah.

Dengan pola tersebut, total penanaman pada 2026 ditargetkan mencapai dua hektare. Selanjutnya, pengembangan akan diperluas pada 2027 hingga keseluruhan lahan mencapai lima hektare.

Untuk mendukung keberhasilan program, Saipullah menegaskan bahwa bibit pisang kepok yang akan digunakan harus merupakan varietas unggul, sehat, dan sesuai rekomendasi.

Pengembangan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Pemkab Madina melestarikan kembali pisang kepok yang pernah tumbuh dan dikenal sebagai salah satu komoditas primadona di daerah tersebut.

Artinya, program ini tidak hanya berorientasi pada penanaman tanaman baru, tetapi juga membawa misi untuk mengembangkan kembali komoditas yang memiliki nilai dan sejarah bagi masyarakat Madina.

Hal yang membuat proyek ini berbeda adalah konsep pengembangannya.

Bupati Saipullah mengatakan, kawasan lima hektare tersebut tidak hanya akan menjadi lahan budidaya pisang kepok. Pemkab Madina memproyeksikannya sebagai tempat wisata baru dengan konsep ekowisata terpadu.

“Sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat terkait komoditas yang dikembangkan,” ujarnya.

Dengan konsep tersebut, kawasan ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat proses budidaya dan pengembangan komoditas pertanian.

Sementara itu, proses persiapan lahan terus dilakukan.

Berdasarkan pantauan di lokasi, areal seluas satu hektare saat ini ditanami kacang tanah menggunakan sistem tumpang sari.

Penanaman kacang tanah tersebut dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan lahan dan upaya menyuburkan tanah sebelum pisang kepok ditanam sesuai tahapan yang telah direncanakan.

Tak hanya tanaman, sejumlah infrastruktur pendukung juga tengah dibangun. Di antaranya parit, kolam, dan tempat penampungan air.

Seluruh fasilitas tersebut dipersiapkan untuk menunjang pengelolaan kawasan sekaligus memastikan proyek berjalan sesuai petunjuk teknis yang telah disepakati.

Dalam peninjauan tersebut, Bupati Saipullah didampingi Asisten Pemerintahan Sahnan Pasaribu, Plt. Kepala Dinas Pertanian Taufik Zulhandra Ritonga, Kepala Dinas PUPR Abdul Rahim Siregar, serta Plt. Kepala Dinas Perikanan Alinafiah.

Kedatangan rombongan tersebut untuk memastikan pelaksanaan program prioritas Pemkab Madina berjalan sesuai rencana.

Jika pengembangan berjalan sesuai target, kawasan Hutatonga nantinya tidak hanya menjadi tempat budidaya pisang kepok, tetapi juga berpotensi menjadi kawasan yang memadukan pertanian, wisata, dan edukasi dalam satu lokasi.

Dengan begitu, proyek lima hektare ini diharapkan mampu menghidupkan kembali pisang kepok sebagai komoditas unggulan sekaligus membuka wajah baru pengembangan ekowisata di Kabupaten Mandailing Natal. (Rls)